Selasa, 21 November 2017

KONFLIK MONGOL DAN TURKI UTSMANI ABAD PERTENGAHAN DI ASIA TENGAH

KONFLIK MONGOL DAN TURKI
PADA ABAD PERTENGAHAN DI ASIA TENGAH

Mata Kuliah Sejarah Umat Islam
Kawasan Asia Tengah

Dosen Pengampu: Prof. Dr. M. Abdul Karim, Double MA


OLEH:
MOCHAMAD FIRMAN KAISA (16120015)
TRI KODARIYA  NISA (16120016)



JURUSAN SEJARAH DAN KEBUDAYAAN ISLAM
FAKULTAS ADAB DAN ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2017


DAFTAR ISI
Daftar isi..................................................................................................................... 1
Bab I Pendahuluan..................................................................................................... 2
a.       Latar Belakang............................................................................................... 2
b.      Rumusan Masalah.......................................................................................... 2
c.       Tujuan Penulisan Makalah............................................................................. 2
Bab II Pembahasan........................................................................................... ......... 3
a.       Latar Belakang Terjadinya Perang................................................................. 3
b.      Kronologi Perang antara Timurlenk dan Sultan Bayazid I............................ 4
c.       Pasca terjadinya perang.................................................................................. 5
Bab III Penutup......................................................................................................... 7
Kesimpulan.................................................................................................... 7
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 8


















BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Bangsa Mongol merupakan bangsa yang telah terkenal dengan luasnya wilayah kekuasaan serta kekuatan dari para pemimpinnya. Salah satu keturunan dari bangsa Mongol ialah Timurlenk yang merupakan keturunan Takinah Khatun dan Amir Turghay. Ia merupakan sosok yang memiliki ambisi yang tinggi dalam menguasai sebuah wilayah. Timurlenk buta akan kekuasaan, ia menaklukan daerah-daerah lain dengan cara yang sangat kejam. Bahkan ia telah membangun menara yang tersusun dari tengkorak kepala manusia yang telah ia bantai.
Tidak lain halnya dengan Timurlenk yang berambisi tinggi, di wilayah kekuasaan Turki juga ada sosok yang memiliki ambisi besar dalam memperluas wilayah kekuasaan Islam, yaitu Sultan Bayazid I. Ia dikenal sebagai Sang Kilat, karena Ia mampu mengalahkan negara-negara Nasrani di Anatolia. Sosok Bayazid I digambarkan laksana kilat diantara dua front Balkan dan Anatolia[1] dalam waktu yang tergolong singkat, yaitu sekitar satu tahun. Kemudian ia juga ingin menaklukkan kota Konstantinopel, namun pada saat Bayazid sedang sibuk menyusun rencana, Timurlenk memanfaatkan situasi itu untuk menyerang Bayazid.
B.       Rumusan Masalah
1.      Apa yang melatarbelakangi terjadinya perang?
2.      Bagaimana kronologi peperangan antara Timurlenk dan Sultan Bayazid I?
3.      Peristiwa-peristiwa pasca terjadinya perang Timurlenk dan Sultan Bayazid I?
C.       Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui latar belakang adanya konflik yang terjadi di Asia Tengah pada masa Timurlenk dan Bayazid I.
2.      Untuk mengetahui kronologi terjadinya perang diantara keduanya.
3.      Mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadinya  setelah perang antara Timurlenk dan Sultan Bayazid I.



BAB II
PEMBAHASAN
A.      Latar Belakang Terjadinya Perang
Sultan Bayazid I mewarisi sifat-sifat keperwiraan dari ayah dan kakeknya, ia juga memiliki semangat yang sangat besar untuk Jihad Fi Sabilillah.[2] Semangat jihad yang menggebu-gebu menyebabkan Sultan Bayazid tidak begitu memperhatikan keadaan pemerintahannya dan acaman eksternal yang muncul dari mana saja. Saat beliau sedang terfokus dengan serangan kepada Konstantinopel, muncul ancaman dari sesama kerajaan Islam , yaitu serangan dari Timurlenk. Ia sangat berambisi dalam menjadi penguasa di Eropa. Karena keduanya sama-sama ingin menjadi penguasa tunggal, maka menimbulkan adanya persinggungan politik antara Sultan Bayazid dengan Timurlenk.
Timurlenk ialah keturunan dari Mongol dan Turki. Timurlenk adalah keturunan Mongol dan didukung oleh banyak kaum Mongol  yang kemudian masuk Islam setelah penaklukkan Baghdad.[3] Ia menguasai hampir sebagian besar dari wilayah negeri-negeri muslim dengan kekuatan kejam dan menakutkan bagi setiap lawannya. Peperangan ini di pengaruhi oleh adanya sebab-sebab berikut:
1.      Para pemimpin wilayah Irak, yang mana negeri mereka tunduk dibawah wilayah kekuasaan Timurlenk. Mereka meminta perlindungan kepada Bayazid I atas serangan yang dilakukan oleh Timurlenk untuk menguasai Baghdad. Sebaliknya, para penguasa wilayah di Asia Kecil yang berada dibawah kekuasaan Bayazid I meminta perlindungan kepada Timurlenk. Kedua pihak yang meminta perlindungan itu akhirnya membenturkan kekuatan Bayazid dan Timurlenk.[4]
2.      Adanya provokasi dari negara-negara Nasrani Eropa kepada Timurlenk agar segera menyerang, menumpas habis dan melenyapkan pemerintahan Bayazid. Hal ini dilakukan agar Timurlenk dapat membalaskan kekalahan mereka terhadap serangan Bayazid di beberapa pertempuran.
3.      Adanya surat-surat yang menimbulkan amarah dari kedua belah pihak. Timurlenk mengirim dua surat, surat pertama tidak direspon oleh Sultan Bayazid sehingga dikirimlah surat kedua yang didalamnya berisi penghinaan kepada Bayazid. Ia mempertanyakan ketidakjelasan asal-usul garis keturunan Bayazid. Dia menawarkan pengampunan kepada Bayazid, karena dia telah mengklaim bahwa Bani Utsmani telah banyak membaktikan diri untuk kepentingan Islam . Dia mengakhiri suratnya dengan mengecilkan posisi Bayazid . Di sisi lain, Bayazid terang-terangan mengatakan bahwa ia siap untuk melawan Timurlenk yang berambisi merampas kesultanannya.[5]
4.      Keduanya sama-sama sangat berambisi dalam perluasan wilayah kekuasaan, meskipun sama-sama dari penguasa wilayah muslim. Mereka ingin menjadi penguasa satu-satunya tanpa ada yang menandinginya.

B.       Kronologi Perang antara Timurlenk dan Sultan Bayazid I
Setelah berhasil menganeksasi Kashmir dan Delhi pada 1398 M, beberapa tahun kemudian Timurlenk berhadapan dengan pasukan Kesultanan Utsmani dibawah pimpinan Sultan Bayazid I. Pertemuan dua kekuatan besar tersebut adalah puncak dari konflik politik antara Bayazid I dengan Timurlenk pada saat itu. Salah satu alasannya kedua pasukan tersebut bentrok, salah satunya adalah karena Sultan Bazayid I melindungi Ahmad bin Uwais dan Qara Yusuf.[6] Kedua orang tersebut dianggap oleh Timurlenk sebagai pemberontak dan pengacau, karena telah menyerang Timurlenk.[7]
Timurlenk bergerak dengan membawa 800.000 pasukannya menuju Anatolia untuk menyerang Bazayid I, pada 1402 M/804 H.[8] Untuk menghadapi serangan pasukan Timurlenk, Sultan Bazayid I mengerahkan 120.000 pasukan. Kedua pasukan tersebut bertemu di sekitar Angora (Ankara sekarang). Peperangan dimulai dengan penaklukkan Anggara oleh Timurlenk, bertujuan agar pasukan dari Turki Utsmani tidak dapat melakukan serangan dari belakang. Pasukan Timuriah memulainya dengan memakai alat berat mereka, tanpa memerintahkan untuk maju[9] hingga akhirnya meriam mereka menghantam pasukan Turki bagian tengah. Selain itu, mereka juga menggunakan panah untuk menyerang satu sama lain. Sulaiman (putra Bayazid) berusaha menyerang dengan menggerakkan pasukkan sayap kiri. Namun hal ini tak membuahkan hasil, Timuriah berhasil membantai belasan ribu prajurit Sulaiman.
Bayazid kemudian mundur secara perlahan namun pasukan Timuriah terus menyerang hingga pasukan dari Turki Utsmani ini mengalami kelelahan dibawah panasnya sinar matahari saat itu, ditambah lagi persediaan air yang tidak mencukupi. Ketiga putra Bayazid yaitu Muhammad, Sulaiman, dan Isa berhasil melarikan diri dan tinggallah ia bersama pasukan Jannisari. Dalam peperangan ini keberuntungan memihak kepada Timurlenk. Ia berhasil mengalahkan pasukan Sultan Bazayid I dan kemudian memenjarakannya. Sultan Bazayid I dipenjara oleh Timurlenk sampai akhirnya meninggal dunia pada 1403 M.
C.       Pasca Terjadinya Perang
Kekalahan Utsmani dalam perang menghadapi Timurlenk ini adalah suatu pukulan yang berat, karena pada saat itu Utsmani dalam masa usaha perluasaan wilayah ke Eropa. Oleh karena itu kekalahan pasukannya dan juga tertangkapnya pemimpin Utsmani dapat menjadi aib bagi pemerintah Utsmani. Diantara  faktor penyebab kekalahan pasukan Utsmani adalah karena ketergesaan Sultan Bayazid I dalam mengambil kebijakan untuk menghadapi  pasukan Timurlenk. Ia tidak melakukan persiapan yang matang, selain itu pasukan Utsmani juga ditempatkan dalam posisi yang kurang menguntungkan yang pada akhirnya mudah untuk di pecah belah oleh pasukan Timurlenk.
Setelah terdengar kekalahan Sultan Bazayid I terhadap Timurlenk, raja-raja Eropa, seperti raja Inggris, Prancis, Qasytalah, dan Kaisar Byzantium segera mengirimkan ucapan selamat kepada Timurlenk atas kemenangannya. Hal ini dikarenakan Utsmani selama ini sudah menjadi pengganggu bagi kerajaan-kerajaan Nasrani di Eropa. Oleh karena itu dengan kalahnya Utsmani dalam perang melawan Timurlenk dapat membuat daerah kekuasaan raja-raja Eropa tersebut aman tanpa ada lagi gangguan dari Kesultanan Utsmani.[10]
     Setelah mengalahkan Utsmani, Timurlenk kemudian menuju wilayah-wilayah Nasrani untuk kemudian ditaklukan. Ia berhasil menaklukan Azniq Bursa dan kota-kota, serta benteng-benteng pertahanan lainnya. Kemudian ia menyerang perbatasan Azmier dan mampu mengalahkan pasukan kuda Rhodesia, yaitu pasukan khusus berkuda milik Paus Yohanes. Penyerangan-penyerangan tersebut dilakukan oleh Timurlenk setelah mengalahkan Utsmani di maksudkan untuk membuat kesan bahwa Timurlenk juga berjuang Jihad fi Sabilillah. Hal ini dikarenakan setelah Timurlenk mengalahkan Utsmani banyak umat Islam yang mengkritik kepadanya, karena Timurlenk telah menghancurkan kekuatan yang selama ini melindungi umat Islam dari gangguan raja-raja Nasrani Eropa.[11]
Selain itu Timurlenk juga mengembalikan para penguasa di Asia Kecil ke kedudukannya semula. Dari kebijakan Timurlenk tersebut, wilayah-wilayah yang sebelumnya berada dibawah pemerintahan Utsmani kembali lagi memiliki kuasa untuk menjalankan pemerintahannya sendiri tanpa adanya kontrol dari Kesultanan Utsmani.
Tidak cukup dengan kemenangan yang telah Timurlenk dapatkan. Ia juga berusaha menumbuhkan konflik diantara anak-anak Bazayid I. Hal itu ia lakukan untuk memadamkan ambisi politik keluarga Bazayid I. Dengan adanya kekacauan akibat konflik, Timurlenk berharap Kesultanan Utsmani menjadi lemah dan akhirnya runtuh.
     



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Timurlenk merupakan sosok penguasa sekaligus pendiri Dinasti Timuriah pada 1370 M yang berambisi, merasa dirinya lah yang pantas berkuasa. Jika di langit ada satu penguasa, yaitu Allah SWT, maka penguasa di bumi adalah dia. Timurlenk menguasai satu persatu wilayah, baik itu muslim maupun bukan. Terbukti pada penyerangan yang dilakukannya kepada kekuasaan Turki Utsmani dibawah pimpinan Bayazid I.
Terjadinya perang ini disebakan oleh suaka politik yang diberikan kepada musuh dari kedua pihak. Sultan Bayazid memberikan suaka politik kepada musuh Timurlenk (Sultan Ahmad dan Qara Yusuf), sebaliknya Timurlenk memberikan suaka politik kepada pemberontak Bayazid. Kemudian surat menyurat yang membakar amarah Bayazid sampai menimbulkan penekanan bahwa ia siap untuk melawan pasukan dari pihak Timurlenk.
Akhirnya perang ini terjadi pada 1402 M, Timurlenk membawa 800.000 pasukan menuju Anatolia, sedangkan Sultan Bayazid I hanya membawa pasukan sebanyak 120.000 pasukan. Keduanya bertemu di Angora yang sekarang menjadi Angkara. Dalam konflik ini Sultan Bayazid I tertawan hingga akhirnya meninggal dalam penjara Timurlenk. Kekuasaan Bayazid secara otomatis jatuh ketangan Timurlenk. Selain itu, banyak konflik yang terjadi antar anak-anak Bayazid sehingga konflik tersebut hanya dijadikan tontonan yang menghibur Timurlenk.



DAFTAR PUSTAKA
Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. Jakarta: Al-Kautsar, 2016.


Karim, M. Abdul. Bulan Sabit di Gurun Gobi. Yogyakarta: Gramasurya, 2014.

Nugroho, Muhammad Ilham. Penyerangan Timur Lang Terhadap Kesultanan Turki Utsmani Pada Masa Bayazid I (1399-1402 M).Yogyakarta:Fak. Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga. 2017.

Tim Riset dan Studi Islam Mesir. Ensiklopedia Sejarah Islam, diterjemahkan oleh Aif Munandar R. Dkk. Jakarta: Pustaka al Kautsar, 2013, Jilid 2.




[1] Ali Muhammad Ash-Shallabi, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniya, (Jakarta:Al-Kautsar, 2016), hlm. 65
[2] Ayahnya yaitu Sultan Murad I yang telah banyak melakukan penaklukan, seperti Andrianopel, Masedonia, Bulgaria dan Asia Kecil. Kakeknya ialah Sultan Sulaiman bin Utsman yang berkuasa 1327-1360.
[3] Ali Muhammad Ash-Shallabi, Bangkit dan Runtuhnya..., hlm. 69
[4] Ibid, hlm. 70
[5] Ibid, 70-71
[6]Tim Riset dan Studi Islam Mesir, Ensiklopedia Sejarah Islam, diterjemahkan oleh Aif Munandar R. Dkk, (Jakarta: Pustaka al Kautsar, 2013), Jilid 2,  hlm. 88.
[7]M. Abdul Karim, Bulan Sabit di Gurun Gobi, (Yogyakarta: Gramasurya, 2014), hlm. 116.
[8]Ash-Shallabi, Ali Muhammad, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, (Jakarta: Pustaka al Kautsar, 2016), hlm. 71. Akan tetapi ada yang mengatakan bahwa jumlah pasukan Timurlenk berjumlah 250.000 orang, seperti yang telah M. Abdul Karim tulis dalam Abdul Karim, M. Bulan Sabit di Gurun Gobi. (Yogyakarta: Gramasurya, 2014), hlm. 116.
[9] Muhammad Ilham Nugroho, Penyerangan Timur Lang Terhadap Kesultanan Turki Utsmani Pada Masa Bayazid I (1399-1402 M), (Yogyakarta:Fak. Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga, 2017), hlm.52.
[10]Ash-Shallabi, Ali Muhammad, Bangkit dan Runtuhnya Khalifah .., hlm. 72.
[11]Ibid, hlm. 72.

Kamis, 09 November 2017

Biografi Singkat Muhammad bin Tughluq di India

Muhammad bin Tughluq
Muhammad bin Tughluq adalah anak dari Ghiyatsuddin Tughluq. Sebelum menjadi sultan, ia dikenal dengan sebutan Jawna atau Malik Fakhruddin Jawna, karena kecakapannya ia diberi gelar Ulugh Khan dan merupakan sebagai pewaris tahta. Layaknya putra raja, ia memperoleh pendidikan militer dan kesusasteraan baik dalam bahasa Arab, maupun Persia. Ia dikenal sangat dekat dengan penyair, sufi dan ulama.
Muhammad bin Tughluq mengambil nama Abul al-Mujahid saat menjadi sultan, nama tersebut diambil dari keluarga raja sama dengan Abu dari sultan India yaitu Sutan Ghazni dan Sultan Ghuri dari Afganistan. Sultan sangat kuat dalam memegang prinsip-prinsip agama dan menjalankan ibadah sholat dengan tekun. Ia merupakan sosok yang taat beragama, sehingga ia memberikan hukuman yang seberat-beratnya kepada rakyat yang melalaikan ibadah tersebut. Setelah Muhammad bin Tughluq naik tahta, ia memperoleh gelar Sultan Muhammad bin Tughluq (Bapa Para Penguasa di Jalan Tuhan). Muhammad bin Tughlug menerapkan sebuah kebijakan pro-Sunni. Ia mempertegas mandatnya sebagai seorang pejuang Muslim dengan mempertahankan India dari berbagai serangan yang dilakukan oleh Mongol.
Muhammad bin Tughluq wafat pada 21 Muharram 752/ 20 Maret 1352 M di Thatta di antara Sind dan Gujarat. Ia menghadapi pemberontakan-pemberontakan yang terjadi secara beruntun pada 1325-1351 M. Kemudian pemerintahannya jatuh kepada kemenakannya yaitu Firuz Shah.
Muhammad ibn Tughlaq (1325-1351 M) terkenal dengan lima buah gagasan yang terpuji, namun semua usahanya gagal. Pertama, proyek pemindahan ibukota dari Delhi ke Deongir. Kedua, ekspedisi ke Khurasan. Usaha penakhlukkan Qarachil, yang merupakan sebuah tempat dibagian Utara India (kaki gunung Himalaya. Keempat, mencetak mata uang. Kelima, penambahan pajak di Doab daerah subur di Allahbad.
a.       Pemindahan Ibu Kota
Sultan memindahkan ibukota ke Deogir pada tahun 1329 M. Hal ini dilakukan untuk menyejahterakan rakyat di daerah selatan dan mengislamkan daerah tersebut. Keputusan Muhammad bin Tughluq yaitu pemindahan Ibukota kedua di selatan pada 1327-1328 M, pemindahan tersebut terjadi adanya pengulangan pemberontakan di bagian selatan, Sultan memindahkan Ibukota juga untuk memudahkan koordinasi bagi seluruh propinsi dari Kesultanan Delhi ke Deogir yang diganti nama menjadi Daulatabad.
b.      Ekspedisi Khurasan
Sultan merupakan sosok yang ambisius sehingga Ia mengirim pasukan ekspedisi berjumlah 370.000 yang telah dipersiapkan selama satu tahun dan dibiayai oleh negara dibatalkan. Hal ini disebabkan karena mulanya ia bekerjasama dengan Termasirin, penguasa Mongol dan al-Nasir (penguasa Mesir) untuk menaklukkan pemerintahan Khurasan yang saat itu dipimpin oleh Abu Said. Usaha yang dilakukan ini gagal karena Termasirin telah berganti kekuasaan, sedangkan al-Nasir membelok pada Abu Said, sehingga hal ini juga menggagalkan rencananya.
c.       Ekspedisi Qarachil
Qarachil merupakan tempat di Utara India tepatnya berada di kaki Gunung Himalaya. Ekspedisi yang dilakukan merupakan bagian dari ekspedisi Khurasan, hal ini terlihat dari jumlah tentara yang dipersiapkan lebih sedikit yaitu 1000 orang untuk ekspedisi Khurasan dan Tranxiona di wilayah Islam.
d.      Penerapan Mata Uang
Proyek Sultan yang selanjutnya ialah mencetak uang kertas, Sultan meminta bantuan kepada China karena pada saat itu China sudah menggunakan uang kertas. Kemudian Sultan memperkenalkan sistem tersebut untuk menggantikan uang tembaga dengan uang kertas. Proyek ini dibuat Sultan dengan tujuan untuk mengisi bendahara yang memburuk dan memperoleh sumber daya yang dapat diandalkan dalam penaklukan. Ide dari Sultan ini mendapat banyak suara dan diadopsi oleh dunia modern. Hal ini memang tidak familiar dan spesifik pada abad ke-14, maka perekonomian tumbang dan pemalsuan yang terjadi pun merupakan hal yang sudah biasa. Kemudian sultan menarik semua uang kertas baik yang asli maupun yang palsu.
e.       Penambahan Pajak
Setelah beberapa proyek yang dilakukan gagal, Muhammad bin Thughluq menambah pajak guna mengganti mata uang perunggu dengan emas. Penambahan pajak ini diperkenalkan kepada penduduk Doab pada saat keadaan ekonomi mereka terpuruk dan bencana kelaparan yang melanda berkepanjangan. Namun dalam keadaan yang seperti itu, negara tidak memberikan keringanan. Hal ini juga terjadi pada petugas penarikan pajak, mereka menarik tambahan pajak untuk mereka sendiri secara keras dan tidak mengambil tindakan cepat terhadap kekerasan yang terjadi pada petani.
Kebijakan Sultan dalam masalah penambahan pajak yaitu memutuskan untuk memberikan bantuan pinjaman para petani dan membantu para petani dengan membajak tanah yang tidak diolah dengan manajemen pemerintahan. Tetapi obat-obatan datang terlambat sehingga memperlemah kesabaran petani. Pertanian rusak parah dan para petani Doab menjadi miskin dan akhirnya mereka pergi ke hutan.

sumber:
Muhammad Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam.
skripsi "Kebijakan Pemerintahan Sultan Muhammad Bin Tughluq Di India (1325-1351) oleh Laili Choiriyah, diterbitkan di Yogyakarta, Fak. Adab UIN SUKA tahun 2004.

PERANG BADAR secara Singkat

PERANG BADAR
Perang Badar adalah  perang pertama yang terjadi dalam Islam. Disebut dengan perang Badar karena perang ini terjadi disuatu daerah bernama Badar. Badar merupakan nama tempat di luar Bandar Madinah.[1]Peperangan antara kaum muslimin melawan kaum musyrikin dari Mekkah, peperangan ini sangat dimuliakan kaum muslimin dan dikenang selalu, serta Allah SWT memuliakan peperangan ini. Allah mengatakan dalam al-Qur’an yang artinya “berbuatlah apa saja yang kalian mau setelah perang Badar ini, Allah telah mengampuni kalian”, ini ditujukan kepada orang-orang yang ikut serta dalam perang Badar.
A.                Kronologi Perang
Perang Badar merupakan puncak pertikaian antara kaum muslimin Madinah dan kaum musyrikin Quraisy Mekah. Peperangan ini disebabkan oleh tindakan pengusiran dan perampasan harta kaum muslim yang dilakukan oleh musyrikin Quraisy. Kemudian kaum musyrikin Quraisy terus-menerus berusaha menghancurkan kaum muslimin, agar perniagaan dan sesembahan mereka terjamin.[2] Perang ini terjadi pada 17 Ramadhan 2 Hijriah atau 13 Maret 624 Masehi di lembah Badar.
Ketika sahabat Rasul berada di Mekkah, kemudian diperintahkan untuk hijrah ke Madinah, orang-orang kafir Quraisy berbuat kejahatan terhadap kaum muslimin. Hal ini membuat Rasulullah ingin mengembalikan hak-hak sahabatnya yang telah dirampas oleh kaum musyrikin Quraisy. Kemudian terdengar sebuah berita bahwa ada sebuah kafilah kafir Quraisy terbesar yang dipimpin oleh Abu Sufyan dengan 40 orang penjaga. Kafilah tersebut membawa harta yang melimpah milik penduduk Mekkah, ada sekitar seribu ekor unta yang sarat dengan muatan bernilai lebih kurang 50.000 dinar emas.[3] Mendengar hal itu Rasulullah SAW membentuk pasukan 313, untuk menyerang kafilah tersebut.
Sebagaimana Allah telah berfirman dalam surah al-Anfal ayat 5-6 yang artinya “Sebagaimana Rabbmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya. Mereka membantahmu tentang kebenaran yang sudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).”[4] Menurut tafsir al-Maraghi, Allah mengatur harta rampasan perang dengan kebenaran sebagaimana Allah menyuruh Nabi SAW keluar dari rumahnya yaitu Madinah untuk berperang ke Badr dengan kebenaran pula. Menurut tafsir ulama lain ialah keluar untuk berperang. Allah SWT menyuruh Nabi Muhammad keluar dengan tujuan untuk mencegah kafilah saja. Sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya, oleh sebab itu Rasul tidak memberikan perintah tegas kepada siapapun untuk ikut serta. Banyak sahabat yang tetap tinggal dalam rumah mereka di Madinah, mereka mengira kepergian Rasulullah untuk pertempuran.
Abu Sufyan yang merupakan pemimpin kafilah, akan pulang ke Mekkah  mengirim mata-mata sebelum melewati Madinah untuk mengetahui adakah pasukan dari kaum muslimin yang akan mencegat kafilahnya. Disisi lain, Nabi SAW juga mengutus dua orang mata-mata yaitu Basbas bin Amr dan Adi bin Abi az-Zaghba, saat yang bersamaan Abu Sufyan juga mencari informasi mengenai penyerangan yang akan dilakukan oleh kaum muslimin. Kemudian tak berapa lama, dia mendapatkan informasi bahwa Nabi Muhammad sudah mengutus para sahabatnya untuk mencegat kafilah.[5] Pada saat itu pula Abu Sufyan segera mengutus Dhamdam bin Amr al-Ghifari ke Mekkah untuk memberitakan bahwa pasukan kaum muslimin akan segera datang ke Badr. Dhamdham diminta untuk menyampaikan kepada masyarakat Mekkah agar mengirimkan bantuan dengan caranya sendiri. Seraya masyarakat Mekkah bergegas pergi beramai-ramai selain Abu Lahab.
Rasulullah bersama Abu Bakar pun keluar mencari informasi mengenai pasukan dari Mekkah. Kemudian keduanya bertemu dengan seorang tua dari kalangan Arab Badui[6] dan bertanya kepadanya tanpa memberi tahu identitas yang sebenarnya. Setelah mendapat informasi, Rasulullah dan Abu Bakar meninggalkan orang tua itu. Pada sore harinya, Rasulullah mengutus Ali bin Abi Thalib, Az-Zubair bin Al-Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash bersama beberapa orang sahabatnya menuju perairan yang ada di kawasan Badar untuk mencari berita tentang kaum Quraisy.[7] Kemudian mereka bertemu dengan dua orang budak dari kaum musyrikin Quraisy yang sedang mengambil air untuk pasukan perang mereka. Kedua budak tersebut lalu dibawa ke hadapan Rasulullah, dari kedua budak tersebut didapatkan informasi mengenai jumlah pasukan Quraisy.
Rasulullah SAW segera keluar dari Madinah bersama 313 pasukan dengan peralatan perang yang seadanya. Mereka hanya mempunyai 2 ekor kuda, yang ditunggangi bergantian oleh para sahabat nabi dan 70 ekor unta. Mendengar kesiagaan kaum muslimin, Abu Sufyan menyusuri jalan lain, ia melewati jalan pantai. Setelah Abu Sufyan dan kafilahnya selamat, ia mengirimkan surat kepada kaum Quraisy yang telah siap untuk berperang, agar mereka segera kembali. Karena tujuan mereka keluar dari Mekkah adalah untuk menyelamatkan kafilah mereka. Saat itu mereka sudah bersiap untuk pulang, namun Abu Jahal sangat berantusias dalam hal ini, ia dan pasukan kurang lebih 1000 orang siap berperang. Setibanya kaum muslimin, dan kedua pihak saling berhadapan. Melihat pasukan Quraisy yang sangat bnyak dan membawa peralatan perang yang lengkap, kemudian Raasulullah berdoa: “Ya Allah, Ini orang-orang Quraisy telah menyongsong dengan kesombongan dan keangkuhannya, menentangMu dan mendustakan RasulMu. Ya Allah, kami hanya memohon pertolonganMu yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, hancurkanlah esok hari.”[8]
Tiga tokoh dari kaum Quraisy Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, dan Al-Walid bin Utbah. Dari kaum muslimin yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib, Ali bin Abi Thalib, dan Ubaidah bin Al-Harits. Peperangan ini kemudian dimulai dengan Ubaidah yang melawan Utbah bi Rabi’ah, Hamzah menghadapi Syaibah dan Ali berhadapan dengan al-Walid. Akhirnya ketiganya dapat dikalahkan, namun Ubaidah mendapat luka yang cukup parah dan akhirnya meninggal dunia. Melihat ketiga tokoh dari kaum musyrikin terbunuh, orang-orang musyrikin marah dan menyerang kaum muslimin. Kaum muslimin menghadapi pasukan musyrikin dengan tenang dan teguh dengan posisi bertahan.
Rasulullah bermunajat kepada Allah dan memohon kemenangan yang telah dijanjikanNya. Atas kehendak Allah SWT, malaikat Jibril turun. Riwayat Muhammad bin Ishaq, Rasulullah bersabda: “Bergembiralah Abu Baka, pertolongan Allah sudah datang. Ini Jibril sedang memegang tengkuk kuda guna memacunya, yang pada gigi serinya terdapat debu.”[9]
Pertempuran berakhir dengan kekalahan di pihak kaum musyrikin dan kemenangan diraih oleh pihak muslimin. Dari pihak kaum muslimin terdapat 14 orang gugur sebagai syuhada, 6 orang dari Muhajirin dan 8 dari Anshar. Sedangkan pihak kaum musyrikin tewas 70 dan 70 orang lainnya ditawan, mayoritas dari mereka ialah komandan, pemimpin, dan ksatria. Semua mayat dimasukkan kedalam sumur yang terletak di jantung kawasan Badar atas perintah Rasulullah SAW.[10]
B.        Dampak Perang
 Peperangan ini menjadikan kekuatan dan keimanan kaum muslimin semakin meningkat. Kaum muslimin menjadi kaum yang paling disegani di Madinah dan sekitarnya.[11] Kaum kafir tidak memperlihatkan kemunafikan mereka, mereka mengaku Islam dihadapan Rasulullah dan sahabatnya. Mereka tidak sepenuhnya menanamkan Islam dihatinya, sehingga Allah mengecam mereka dengan bermacam-macam adzab yang telah dijelaskan dalam ayat-ayat al-Qur’an.
Keyakinan kaum muslimin terhadap Rasulullah semakin bertambah dan banyak dari kaum musyrikin mengakui Muhammad SAW adalah utusan Allah, kemudian mereka masuk Islam. Selain itu, kaum muslimin mendapat keahlian di bidang kemiliteran, mengetahui strategi dalam perang, mendapatkan harta rampasan dan kemasyhuran yang meluas di jazirah Arab.
Pihak kaum musyrikin Quraisy mendapatkan kerugian yang sangat parah, dalam perang ini Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf, Utbah, dan pemimpin perang lainnya terbunuh. Penduduk Mekkah merasakan duka yang sangat mendalam, banyak keluarga mereka mati terbunuh ataupun menjadi tawanan. Selain kesedihan atas kerabat, mereka juga mendapat kecaman perdagangan serta kekuasaan mereka di Hijaz. Demikianlah kerugian serta duka yang mendalam yang dirasakan oleh orang-orang Mekkah.




[1] Abdurrahman bin Abdul Karim, Kitab Sejarah Nabi Muhammad SAW, (Yogyakarta:  DIVA Press, 2013), hlm. 425.
[2] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2015), hlm. 74.
[3] Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Perjalan Hidup Rasul Yang Agung MUHAMMAD Dari Kelahiran Hingga Detik-Detik Terakhir, (Jakarta: Darul Haq, 2012), hlm. 295.
[4] Ibid., hlm. 302.
[5] Ibid., hlm. 297.
[6] Ali Muhammad Ash-Shallabi, Sejarah Lengkap Rasulullah, Jilid 1, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2012), hlm. 614.
[7] Ibid., hlm. 615.
[8] Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Perjalan Hidup Rasul Yang Agung MUHAMMAD Dari Kelahiran Hingga Detik-Detik Terakhir, (Jakarta: Darul Haq, 2012), hlm. 313.
[9] Ibid., hlm.318.
[10]Ibid., hlm.329-330.
[11]Ali Muhammad Ash-Shallabi, Sejarah Lengkap Rasulullah, Jilid 1, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2012), hlm. 676.